Fakta dan Mitos - “Buat apa Pak mengerjakan skripsi, toh nanti hanya digunakan sebagai tumpukan di Perpustakaan? Skripsi tidak berguna sebenarnya.” Pertanyaan dan pernyataan tersebut diajukan salah satu anak bimbing penulis angkatan 2005 pada beberapa tahun yang lalu. Penulis teringat kembali dengan pertanyaan dan pernyataan tersebut ketika beberapa hari yang lalu seorang mahasiswa menanyakan hal yang sama namun ditanyakan dengan konteks yang lebih luas, “Apakah skripsi penting bagi bangsa kita? Kalau penting, berapa banyak hasil skripsi yang dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa kita? kog masih lebih banyak yang menjadi penghias perpustakaan? Di universitas ini saja sebanyak itu belum lagi di universitas yang lain”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut terasa mengelitik bagi penulis, terutama karena banyak mahasiswa bimbing penulis yang mengerjakan skripsi. Beberapa makna dapat ditangkap dari pertanyaan dan pernyataan mahasiswa tersebut.
Sangat mungkin bahwa proses pengerjaan skripsi merupakan hal yang tidak menyenangkan, karena membutuhkan proses yang dirasakan beberapa mahasiswa sebagai proses yang sulit. Mengacu pada analisis ini maka proses pengerjaan skripsi dirasakan sebagai tugas yang tidak menyenangkan namun wajib dikerjakan (task aversiveness) dan skripsi memiliki nilai (value) yang rendah. Skripsi merupakan karya tulis ilmiah, yang biasanya dimuati banyak konsep ataupun teori ilmiah. Bila dibandingkan dengan tugas akhir yang berisi karya praktis dan lebih jelas manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari maka tugas akhir yang praktis lebih terlihat memiliki valueatau tugas yang menyenangkan. Nah mengacu pada analisis ini, maka perlu dicari manfaat praktis dari skripsi atau karya ilmiah yang dikerjakan.
Agar skripsi tidak menjadi penghias perpustakaan ataupun hanya menjadi konsumsi masyarakat akademis maka skripsi harus dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari. Hal ini bisa dimulai dari kita sebagai pembimbing, menumbuhkan semangat atau minat mahasiswa dalam mengerjakan skripsi tidak hanya sekadar pemenuhan kewajiban. Pembimbing dapat menstimulasi mahasiswa mencari manfaat praktis dan bagaimana cara menerapkan hasil skripsi dalam kehidupan sehari-hari.
Sebelum menstimulasi mahasiswa, kita terlebih dahulu harus menstimulasi diri kita sendiri, membuat penelitian tidak hanya untuk mengejar kewajiban melakukan penelitian atau hobi meneliti, namun bagaimana kita memanfaatkan hasil penelitian untuk kehidupan sehari-hari. Jadi dengan semangat seperti ini, maka hasil penelitian tidak hanya sekadar dipublikasikan dalam bentuk jurnal, buku, ataupun presentasi di forum-forum ilmiah seperti konferensi. Dengan demikian semangat mahasiswa terkait dengan skripsi yang dikerjakan tidak hanya sekadar penghias perpustakaan diharapkan akan meningkat dan adanya rasa memiliki skripsi yang dikerjakan.
Banyak skripsi karya mahasiswa yang memiliki kualitas baik dan dimulai dari permasalahan yang muncul di kehidupan sehari-hari. Jadi sangat disayangkan kalau skripsi yang telah dikerjakan dengan usaha, akhirnya hanya menjadi penghias perpustakaan. Tujuan mulia pengerjaan skripsi adalah menemukan pemecahan masalah yang terjadi dalam kehidupan, sehingga seharusnya dapat dimanfaatkan sesuai dengan tujuan.
"Ane sendiri masih berstatus mahasiswa baru. Ane juga bingung tuh kenapa skripsi wajib dibikin padahal setelah itu tidak lagi dipakai. Padahal orang yang skripsinya bagus belum tentu dia pintar dan menguasainya. Sekarang aja banyak banget jasa-jasa dan joki pembuatan skripsi dan harganya makin lama makin terjangkau kantong mahasiswa. Secara gak langsung hal ini mengajarkan praktek suap dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu . Gimana bisa maju negri kita Indonesia tercinta kalo dari hal gini aja udah ada praktek monopolinya? . cuman buat ngetest aja gan ada kemauan dan kerja keras ga para mahasiswa-nya.. soalnya dunia kerja lebih keras lagi dan yang di simpen di perpus hanya skripsi2 yang bagus aja gan ane pernah liat di gudang kampus ane, kebetulan pintu nya agak terbuka sedikit, skripsi nya pada ditumpuk2 di iket2 pake tali plastik kayanya sih mau di kiloin trus di jual.
Kebetulan pernah punya pengalaman ngeri ngeri sedap sama yg namanya skripshit. Jujur aja sih dulu sampe 8 semester buat skripsi doang. Selain faktor udah ga minat lagi sama bidang studi. Waktu ngerjain, skripsi tu ga penting toh pada akhirnya ga guna, cuma nongkrong sampai bulukan di salah satu sudut perpus. Tak tersentuh, tak bernyawa. But anyway tu skripsi ane kelarin juga. Dan ada beberapa tips yg bisa ane bagi :
1. Perfeksionis sih boleh, tapi jangan kelewatan. Mesti disesuaikan sama kemampuan kalo ngga pada akhirnya korbannya kita sendiri yg kesulitan.
2. Kerjakan sendiri tu skripsi! Karna blank soal statistik, skripsi dah molor dan minat ngerjain udah tipis ane nyoba jasa bikin bantu skripsi rermasuk jasa uji statistik dan hasilnya yah You know lah ancur. Tata bahasa kelihatan banget modal copas & pake uji statistik juga hasilnya ga tahu darimana tiba tiba muncul angka. (sebelumnya cuma intuisi aja kalo hasilnya ga beres dan emang bener setelah 3 bulan trial & error bergelut sama software statistik). Daripada duit jutaan abis buat bayar jasa, lebih baik dari awal familiar sama software uji statistik cem SPSS di awal-awal kuliah. Belajar dari nol program SPSS ma AMOS modal trial & error dipandu ebook warez sangat berguna untuk menyelamatkan diri kala shit happens.
3. Kalo ente mentok soal statistik, cara cepat ngerjainnya bisa pake metode reverse engineering. Karena mentok mulu data ga valid, akhirnya ane rubah cara kerja. Ane mulai dari sebar kuesioner dolo. Test 30 kuesioner trus uji statistik. Gambaran besar hasil udah kelihatan, langsung hajar survei gede. Waktu itu butuh data 200 responden sebetulnya tapi ane lebihin jadi 300. Jadi punya cadangan cukup banyak bila ada data penyebab ga valid.
4. Giliran data dah beres, baru ane susun argumen buat mendukung data tadi. Nah disinilah eureka moment yg berguna sampe sekarang. Kemampuan berfikir secara menyeluruh dari awal sampe akhir. Ketika dah dapet gambaran besar dilanjutkan menyusun kerangka karangan seperti pelajaran jaman SD.
5. Kalo kesulitan sama bahasa model akademis, cari aja banyak jurnal luar, ambil paragraph yg kira-kira relevan, copot sana-sini, disambung-sambungin kemudian diterjemahin...Cocot si Ruhut ama Sutan Batoegana aja kalah hasilnya.
6. Baekin tu dosen ente. Lebaran adalah saat yang tepat buat berkunjung bawa oleh oleh hahaha... Well setidaknya lebih mulus nanti proses ketemu ntu dosen huehehe...
Semoga yang masih bertahan dan berjuang sendiri untuk membuat skripsinya segera kelar dan isi skripsinya bisa bermanfaat bagi dunia kerjanya bahkan negara kita tercinta ".
Sekian terima kasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar