Fakta dan Mitos - Seorang teman bercerita pada saya bahwa suasana tempat dia bekerja saat ini sudah tidak nyaman. Menurut pengakuannya, beberapa kali dia diminta melakukan pekerjaan yang sama sekali bukan job desc-nya. Belum lagi sikap “cari aman sendiri” yang dipertontonkan atasannya membuat teman saya ini semakin galau. Yang lebih kacau lagi, sang big boss sampai berkata bahwa divisi tempat teman saya berada tersebut adalah divisi yang, “Kerjaannya cuma buang-buang uang. Tidak bisa menghasilkan uang.” Wah wah…
Kebetulan dalam situasi tersebut dia mendapat side job membuat pilot project sebuah acara yang -jika berhasil- akan ditayangkan di satu stasiun televisi lokal berjaringan. Terakhir, dia bertanya pada saya, “Menurut Mas Ryan gimana? Kalo program ini tembus di station, apa enaknya saya keluar aja dari N*******a? Apalagi kebetulan ada investor nih Mas, jadi saya bisa ngontrak tempat untuk bikin studio sendiri.”
Saya tidak bisa langsung menjawab karena kebetulan saya pernah bekerjasama dengan stasiun televisi yang dimaksud sehingga sedikit banyak saya mengerti kultur kerja di sana. Keluar Atau Bertahan? Antara Emosi, Tanggung Jawab, dan Hitung-hitungan
Kebanyakan kita memutuskan untuk keluar dari pekerjaan karena dipicu emosi. Konflik dengan rekan kerja dan atasan, suasana kerja yang tidak lagi senyaman dulu, beban pekerjaan yang semakin lama semakin “aneh” serta tidak jelas, dan lain-lain termasuk gaji yang segitu-segitu saja. Kadang-kadang keputusan untuk resign ini muncul setelah berbulan-bulan “menderita”, namun sering juga seseorang memutuskan untuk resign hanya beberapa menit setelah emosinya tersulut.
Apapun sebabnya, sebisa mungkin hindari memutuskan untuk keluar dari pekerjaan karena emosi sesaat, kecuali jika pemicunya memang sudah tidak bisa ditolerir lagi (yang parameternya tentu berbeda-beda untuk setiap orang).
Sekadar mengingatkan, uang yang kita dapat dari hasil kerja bukan hanya kita sendiri yang menikmatinya. Ada anak dan isteri. Sudah pasti mereka akan terkejut (dan kalut) ketika kita pulang sudah dalam keadaan tidak lagi bekerja.
Jadi, aturan nomor 1 adalah : “JANGAN RESIGN KARENA EMOSI”
Nah, seandainya kita memutuskan untuk keluar dari pekerjaan setelah “merasa menderita”, maka komunikasikan keinginan tersebut kepada pasangan supaya ketika saat itu tiba dia sudah lebih siap. Tentu saja rentang waktunya jangan terlalu dekat, besok mau keluar, hari ini baru cerita. Atau yang lebih parah lagi, sudah keluar tapi seolah-olah masih bekerja di tempat tersebut (ini benar-benar terjadi). Dan, ini juga penting, selama pasangan belum menyatakan persetujuannya atas keinginan kita untuk resign, berarti dia belum siap. Apa yang harus kita lakukan? Sementara bertahanlah, jangan keluar dari pekerjaan, sambil kita terus mengkomunikasikan keinginan kita, tentunya tanpa emosi. Masih belum setuju? Terus bersabar dan berusaha.
Dan aturan nomor 2 adalah : “KOMUNIKASIKAN KEINGINAN UNTUK RESIGN PADA PASANGAN ANDA, DAN JANGAN SEKALI-SEKALI ANDA RESIGN SEBELUM PASANGAN MENYATAKAN PERSETUJUANNYA”
Masalah terakhir adalah hitung-hitungan alias keuangan. Jika kita memutuskan untuk resign karena diterima bekerja di kantor baru, masalah ini biasanya tidak terlalu diperhatikan. Tapi lain halnya jika kita keluar dari status sebagai “pekerja bulanan”, masalah hitung-hitungan ini sangat penting. Seperti diketahui, pada umumnya perusahaan memberikan pesangon sebesar 3-4 kali gaji jika kita mengundurkan diri. Jika dipecat? Entahlah, hanya mendapat 1 kali gaji atau malahan tidak ada pesangon sama sekali. Saran saya pribadi, sebelum resign pastikan bahwa kita akan mendapatkan “jaminan hidup” selama setidaknya setahun. Jaminan hidup ini misalnya berupa project yang berjalan kontinu selama setahun, bisa juga berupa aset yang memberikan penghasilan pasif pada kita, termasuk pesangon dari perusahaan sebesar 3-4 kali gaji tersebut juga merupakan jaminan
hidup. Kenapa setahun? Berdasar pengalaman, masa-masa indah ketika kita keluar dari pekerjaan adalah 3 bulan pertama. Saat itu kita merasa bebas merdeka dari segala rutinitas. Pada masa-masa tersebut, biasanya kita banyak menghabiskan waktu dengan bersenang-senang, lupa pada fakta bahwa kita sudah tidak lagi mendapat gaji bulanan. Memasuki bulan ke-4 saat tabungan sudah menipis, kita dibawa kembali pada realita. Pada saat tersebut kita mulai panik dan cemas. Mulailah kita menghubungi teman-teman, mencari pekerjaan, mencari project, apapun itu. Masalahnya, semua hal tersebut umumnya tidak bisa datang secara tiba-tiba. Mungkin butuh waktu satu, tiga, enam bulan, bahkan lebih.
Karena itu ingat aturan nomor 3 : “SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERHENTI SEBAGAI PEKERJA BULANAN, PASTIKAN BAHWA ANDA MEMILIKI JAMINAN HIDUP SELAMA SETIDAKNYA SETAHUN”
Lalu Bagaimana? Kembali ke teman saya tersebut, saya mengembalikan jawaban atas pertanyaan tersebut pada dirinya, “Kalo elo yakin bahwa investor tersebut punya project yang bisa jalan selama setahun ya nggak apa-apa. Inget, status kita sebagai suami dan ayah, kita punya tanggung jawab terhadap mereka. Memang masalah resign ini masalah antara hati dengan tanggung jawab.” Kali ini giliran teman saya yang terdiam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar