Fakta dan Mitos - Tak banyak nama para pahlawan dari sipil yang namanya diabadikan jadi nama jalan di kota-kota di Indonesia. Sebagian besar nama jalan selalu menggunakan nama tentara. Bahkan presiden pertama Indonesia, Soekarno, tak jadi nama jalan. Kecuali, tentu saja selalu digandeng menjadi Soekarno-Hatta.
Menurut sejarawan JJ Rizal, ada upaya politik untuk mengurangi pengaruh Soekarno dan Hatta oleh pemerintah Orde Baru agar nama besar kedua tokoh itu tidak menandingi kebesaran Jenderal Soeharto. Bagi dia, Orde Baru hendak memosisikan mereka sebagai dwitunggal, bukan sebagai pribadi masing-masing. “Saya melihat ini sebagai upaya pengerdilan terhadap peran mereka berdua,” ujarnya.
Berikut beberapa nama pahlawan dari sipil yang namanya diabadikan menjadi nama jalan, tahukah Anda siapa mereka sebenarnya?
1. Muhammad Hoesni Thamrin (16 Februari 1894 - 11 Januari 1941)
Thamrin sempat belajar di Koning Willem III, sekolah menengah yang pertama kali didirikan oleh Belanda di Jakarta. Pada usia 25 tahun, ia ditunjuk menjadi anggota Dewan Kota Jakarta. Empat tahun kemudian, ia menjadi anggota perkumpulan “Kaum Betawi”. Karirnya pun semakin meningkat hingga dinobatkan sebagai Wakil Walikota Tingkat I. Tahun 1927, Thamrin ikut membentuk Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) di Bandung. Dia duduk sebagai wakil Betawi. Aktivitasnya di Dewan Kota membawanya masuk ke Dewan Rakyat (Volksraad). Ia pun ditunjuk sebagai Ketua Fraksi Nasional pada 1930. Setelah itu berbagung dengan Partai Indonesia Raya (Parinda) yang didirikan Dr. Soetomo dan memimpin partai itu setelah Soetomo wafat. Pada 1941, Thamrin wafat. Pemakamannya mendapat perhatian besar dari masyarakat Indonesia, Belanda dan Tionghoa.
2. Ir Raden Juanda Kartawijaya (14 Januari 1911 – 7 November 1963)
Juanda dikenal luas sebagai tokoh yang memiliki konsentrasi pada pembangunan kelahiran Tasikmalaya, 14 Januari 1911. Ia menamatkan strata 1 di Technische Hooge School (sekarang ITB) pada 1933. Ia menolak tawaran sebagai asisten dosen di THS dan memilih mengajar di Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah di Jakarta. Setelah empat tahun mengajar, Juanda memasuki dinas pemerintahan, sebagai tenaga ahli pada Jawatan Pengairan Jawa Barat. Ketika Indonesia sudah merdeka, ia didaulat sebagai Kepala Jawatan Kereta Api seluruh Jawa dan Madura, lalu menjabat Menteri Perhubungan setelahnya. Ketika Belanda membentuk Negara Pasundan, ia menolak menduduki jabatan di sana. Juanda merupakan tokoh yang paling sering duduk dalam kabinet. Sudah 17 kali, mulai dari Menteri Muda Perhubungan sampai Menteri Pertama. Juanda wafat akibat serangan jantung dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta.
3. Raden Otto Iskandar Dinata (31 Maret 1897 – 20 Desember 1945)
Pria kelahiran Bandung ini dikenal memiliki perhatian terhadap pergerakan bangsa saat masih menjadi pelajar. Tahun 1925, ketika bertugas di Pekalongan, ia bergabung dengan organisasi Budi Utomo dan menjadi anggota Dewan Kota Pekalongan mewakili Budi Utomo. Tahun 1928, ia tinggal di Jakarta. Selain menjadi guru di Muhammadiyah, ia dikenal sebagai aktivis politik. Tahun 1930, Otto dipilih menjadi anggota Dewan Rakyat (Volksraad) mewakili "Paguyuban Pasundan". Karena keberaniannya, Otto dijuluki "Si Jalak Harupat". Di era presidensiil di bawah Soekarno dan Hatta, Otto diangkat menjadi Menteri Negara. Selain itu, ia memimpin “Badan Pembantu Prajurit”, serta aktif membentuk "Badan Keamanan Rakyat" (BKR) yang berkembang menjadi TKR dan kini menjadi ABRI. Atas jasanya, ia dianugerahi Pahlawan Nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar