Cari Blog Ini

Selasa, 03 Desember 2013

Saat Mengesankan dan Menegangkan dalam Hidup Laki-Laki

Fakta dan Mitos - Salah seorang temen ane bilang "Cewe itu misteri". Yakin? Menurut ane seorang cowo juga menyembunyikan misterinya. Berikut ini adalah saat-saat menegangkan sekaligus mengesankan bagi laki-laki. Yah, mungkin ga semuanya, tapi mayoritas sih begitu.

1. Disunat
Mungkin ini adalah saat yang menegangkan bagi anak laki-laki. Orang tua yang berusaha menenangkan hanya bisa berbicara "Tenang nak, disunat itu kaya digigit semut kok" dan biasanya anaknya akan menjawab "Semutnya segede apa?" atau "Coba 'punya' ayah aku kasih semut. Mau?". Maklum, ini menyangkut masa depan sang laki-laki. Yang ditakutkan adalah, ternyata sang dokter digantikan dengan tukang pangkas rumput. Abis dah tuh. Walaupun begitu, sang laki-laki tetap memasuki ruang dokter dan berharap 'itu'nya selamat.

2. Masa Remaja
Mungkin ini bisa dibilang masa yang tak bisa ditebak. Saat ini sang laki-laki dalam pencarian jati dirinya. Dia berpikir seperti apa teman-temannya ini. Apakah mayoritas berpikiran bf atau sebaliknya? Dia tidak tahu, dan dia yang harus mencari jawabannya. Dan di masa ini banyak yang bagi dia merupakan pertama kalinya. Misalnya, jatuh cinta pertama kali, tawuran pertama kali, dll.

3. Saat Berkompetisi
Pada dasarnya, laki-laki egonya lebih besar daripada wanita. Jadi, saat berkompetisi dia akan berusaha sekuat tenaga untuk memenangkannya. Misalnya saat bermain sepak bola, dia bermain dengan semangat total. Yang lebih memotivasinya adalah dengan adanya cewek yang ditaksir sedang menonton. Walaupun wajahnya sudah digebok bola sampai tak berbentuk lagi, namun dia masih bangkit dan bermain lagi. Walaupun akhirnya sirine ambulans mengantarkan sang laki-laki ke rumah sakit, dikarenakan sang laki-laki kelewat semangat sampai kepleset dan jatuh ke kubangan dekat lapangan lalu pingsan. Sungguh konyol.

4. Patah Hati
Ya, patah hati. Bisa dibilang ini adalah saat mengesankan bagi laki-laki. Untuk laki-laki  yang pertama patah hati, mungkin akan berpikir seperti ini "Oh, jadi gini ya rasanya patah hati? Seru juga..." Yah, ini adalah laki-laki yang tegar. Jika hati seorang laki-laki diibaratkan pedang, maka patah hati adalah penempanya. Satu kali patah hati, satu kali tempaan, dua kali patah hati, dua kali tempaan dst. Tapi walaupun begitu, jika pedang terus menerus ditempa, pasti akan hancur juga karena tak kuat menerima hantaman sang pandai besi.

5. Saat Berkelana
Sang laki-laki beranjak dewasa. Kini dia kuliah di kota yang jauh sehingga terpaksa nge-kos. Mungkin sampai di kos-kosan dia berdoa, semoga pemilik kosnya tidak sama seperti guru matematiknya yang dulu menyeretnya keluar kelas gara-gara tidak ngerjain PR. Yang paling mengesankan sih biasanya saat uang kiriman gak dateng-dateng. Biasanya sang laki-laki akan nongkrong di teras kos-kosan bersama teman-temannya yang senasib dan nyanyi-nyanyi sambil genjreng gitar dan sesekali mangap-mangap, berusaha menangkap partikel kecil di udara untuk mengenyangkan perut. Sungguh ironis.

6. Bekerja
Mungkin bagi laki-laki yang wirausaha sih biasa aja karena yang dia khawatirkan hanya usahanya tudak sukses atau saingannya menyelundupkan tanah kuburan ke dalam ruang kerjanya, Mistis abis. Tapi bagi yang melamar pekerjaan ke sebuah kantor mungkin akan sangat tegang. Mungkin dia akan berhenti sejenak dan menatap pintu kantor yang akan dia lamar. Lalu dia mulai siapkan mental. Dia sudah siap terhadap kemungkinan terbaik : "Ternyata bosnya adalah teman lamanya yang sangat loyal", sampai kemungkinan terburuk : "Ternyata bosnya adalah Guru Fisika SMAnya yang kabarnya adalah keturunan kanibal".

7. Melamar
"Ini adalah penentuan" begitu pikir sang laki-laki. Ini adalah penentuan pendamping hidupnya. Walaupun dia dihantui rumor-rumor tak sedap seperti : "Bapak sang cewek adalah orang yang sangat buas " atau "Ibu si cewek adalah orang yang sangat perfeksionis " ataupun "Si cewe melihara siluman kera, yaitu adiknya sendiri ", dia tak peduli, dia tetap beranjak pergi menuju rumah sang wanita yang ditakdirkan menjadi pendamping sepanjang usianya. Wanita yang diciptakan dari seruas tulang rusuknya yang hilang, wanita yang dia dambakan sejak lama. Apapun resikonya, dia ingin memiliki sang wanita pilihannya.

8. Pembacaan Ijab Kabul
Berulang kali dia bertanya pada calon istrinya "Sayang, nama kamu benar kan binti tan? " sebelum pembacaan dimulai. Dan biasanya sang calon istri akan berkata "Iya sayang, udah aku bilangin iya. Perlu aku tulis teksnya? ". Lalu sang suami langsung ngelengos pergi, jaga gengsi. Saat pembacaan dimulai, sang laki-laki menggenggam tangan penghulu sangat erat. Bahkan terlalu erat sampai penghulunya meringis kesakitan. Selesai membaca ijab kabul dengan sukses, dia bersyukur dalam hati, dan siap mengukir memori bahagia bersama sang istri dalam bulan madu.

9. Istri Melahirkan
Mondar mandir dia berjalan di lorong rumah sakit. Berharap bayi dan istrinya selamat. Berharap bisa segera menggendong bayi tercintanya, sekaligus bisa menggendong istrinya jika dia masih kuat. Dia berpikir : "Bagaimana wajah anak ku nanti? Apakah secantik ibunya? Atau Setampan ayahnya? Atau jangan/jangan mirip tetangga? Ah ppikiran bodoh ". Tiba-tiba sang dokter keluar dan berkata "Anak anda lahir dengan sempurna ", saat itu juga sang laki-laki ngacir menuju ruang bersalin. Namun saat dia masuk ruangan, dia mendapati jejeran mayat yang tertata rapi . Seketika itu juga tubuh dia lemas krn mengira anak dan istrinya tak terselamatkan. Namun tiba-tiba dia tersadar bahwa dia salah masuk ruangan, ternyata dia masuk kamar mayat. Beruntunglah ada penjaga Rumah Sakit yang memberitahunya.

10. Menjadi Ayah
Dia melihat anaknya dari ruang kerja. Saat itu dia membayangkan masa depan sang anak. Jika anaknya laki-laki, dia akan berfikir : "Dia pasti akan kudidik hingga menjadi laki-laki yang disiplin dan setia!!" dan jika anaknya perempuan : "Akan kulindungi putri ku segenap kemampuan ku, dan akan kupilihkan pendamping yang cocok untuknya ". Tiba-tiba lamunannya buyar karena mendengar tangisan bayinya yang baru berumur 3 bulan. Dia sudah berfikir terlalu jauh dan matang.

11. Di Usia Senja
Laki-laki muda yang perkasa, tangkas dan cekatan itu, kini sudah menjadi kakek tua yang rentan. Sadar akan usianya yang semakin memudar, dia sering mengumpulkan keluarga besar di suatu tempat dan mulai membicarakan kisah hidupnya yang sudah berulang-ulang dia ceritakan sampai anak cucunya hapal dialognya. Terkadang dia selipkan sepatah dua patah lelucon yang mengundang tawa semua orang. Beberapa saat kemudian, dia membahas tentang "Akhir Hidupnya". Seketika itu juga keluarga memotong pembicaraan dan berkata "Sudahlah ayah, ayah masih bisa hidup 100 tahun lagi kok ". Dia tersenyum puas atas reaksi keluarganya. Namun tak berapa lama dia melanjutkan pembicaraannya dan kali ini tak ada yang memotong pembicaraannya karena semua anggota keluarga terdiam. Semua itu dia lakukan karena dia ingin diingat sepanjang masa. Dia berusaha meninggalkan kenangan terbaik sebelum malaikat maut singgah dan menjemput dirinya . Dia tak tahu kapan ajalnya datang, mungkin sebulan lagi, seminggu lagi, sehari lagi bahkan sedetik lagi pun dia tak dapat mengiranya. "Mungkinkah semenit lagi jantung ku akan berhenti berdetak? Ataukah mungkinkah sedetik lagi aku akan hembuskan nafas terakhir?" begitu yang dia pikir. Kemudian, dia melihat album kenangan yang diletakkan di dekatnya. Saat itu dia memeluk erat album itu. Sejujurnya, saat itu dia mendapati perasaan yang aneh. Berbeda dengan perasaan saat dia melihat ayah atau ibunya dikuburkan, ataupun sahabatnya yang lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa. Bukan hanya sedih yang meliputinya, tapu juga rasa bangga. Dia sudah bangga menjadi seorang ayah, bangga menjadi kakek cucu-cucunya, bangga menjadi suami dan bangga bisa melihat perkembangan mereka semua. Dia ingin menangis, namun harus membendung air matanya. Dia harus meninggalkan keluarga tercinta dan dia harus menerima akhir kisahnya.

"Hanya tantangan yang mampu membangkitkan semangat kami, Hanya cinta dan kasih sayang yang mampu menyejukkan jiwa kami. Hanya tangis sang anak yang mampu meluluhkan hati kami, dan hanya Kuasa-Nya yang mampu hentikan ambisi kami. Sampai akhir pun, laki-laki harus terlihat tangguh. Yang diwariskan seorang laki-laki bukanlah harta, namun tekad yang tegar dan tak gentar oleh gertakan Sang Waktu."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar