Cari Blog Ini

Selasa, 05 November 2013

6 Jenis Lupa dan Penyebabnya

Fakta dan Mitos - Dalam kegunaan praktis intelektualitas kita, melupakan sama pentingnya dengan mengingat.

Wawh, kenapa harus lupa? Dan mengapa itu penting? Pak William mengungkapkan bahwa lupa adalah sesuatu yang penting dalam menjalankan kemampuan otak kita, karena memang kita membutuhkan yang namanya lupa.

Bayangkan saja jika setiap detil dari apa yang kita lakukan semuanya kita ingat dan tak ada satupun yang kita lupakan. Secara kapasitas memori memang tak akan ada masalah karena kapasitas memori kita dapat menampung informasi yang batasannya masih akan sangat sisa kalau digunakan secara normal selama kehidupan kita. Namun bagaimana dengan afeksi kita? Ya afeksi kita pasti tidak akan baik-baik saja karena emosi akan berperan lebih berat dari normalnya. Lupa juga merupakan suatu anugerah, karena dengan lupa beberapa kejadian yang bersifat traumatic dapat kita kita hilangkan dari ingatan kita. Yang menjadi pertanyaan, apakah lupa bisa kita lakukan secara sadar dengan niatan, atau hanya karena alasan tertentu lupa itu bisa terjadi?

Nah, menurut Robert L. Solso, Otto H. Maclin, M. Kimberly Maclin dalam bukunya psikologi kognitif halaman 219-223 menjelaskan jenis-jenis lupa dan apa penyebabnya :

1. Amnesia
Sejenis kelupaan yang terjadi akibat ada masalah dalam otak.
Penyebab : penyakit (mis: Alzheimer & sindrom Korsakoff) & cedera traumatik di otak. Konfabulasi membentuk detail yang hilang (yang tidak mampu diingat) dalam memori. Gradien temporal hilangnya memori mengenai berbagai peristiwa sesaat sebelum cedera dan menurun secara bertahap seiring mundurnya waktu. Amnesia retrograde (retro = lama) Hilangnya memori mengenai berbagai peristiwa sebelum cedera otak terjadi. Didukung oleh Lynch & Yarnell (1973) penelitian terhadap pemain futbol yang cedera. Amnesia anterograde (ante= setelah) Lenyapnya memori mengenai berbagai peristiwa setelah cedera otak terjadi.

2. Decay
Memudarnya memori seiring berlalunya waktu atau akibat jarang digunakan.

3. Interferensi
Bercampur-baurnya memori yang serupa. Interferensi retroaktif (retro = lama). Memori baru menghambat pengambilan memori lama. Interferensi proaktif (pro= baru) Memori lama menghambat pengambilan memori baru.

4. Kegagalan pengambilan (retrieval failure)
Ketidakmampuan menemukan isyarat memori (memory cue) yang diperlukan bagi pengambilan memori tersebut.

5. Kelupaan yang disengaja
Represi yang disadari terhadap memori, umumnya dilakukan untuk menghindari kenangan akan pengalaman traumatik.

6. Represi
Mendorong pemikiran, memori, atau perasaan yang mengancam keluar dari kesadaran.

Dari penjelasan diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa lupa bisa terjadi karena memang ada niatan dari dalam diri kita untuk melupakan yaitu pada jenis decay, represi, dan kelupaan yang disengaja. Dalam decay memory dihilangkan atau dilupakan karena memang tak pernah untuk diingat. Dan pada kelupaan yang disengaja, memori yang ada dalam ingatan kita sengaja dikeluarkan agar tak membebani afeksi serta emosi kita. Namun ada juga lupa yang memang tanpa ada niatan, misalnya saja pada amnesia yang disebabkan oleh suatu penyakit atau cedera traumatic di otak.

Nah, ternyata kata yang sesimple lupa memiliki manfaat juga jika digali lebih dalam dan dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar