Cari Blog Ini

Jumat, 11 Oktober 2013

Jarum untuk Memprediksi Osteoporosis

Fakta dan Mitos - SEBUAH jarum yang dimasukkan ke tulang bisa memprediksi kecenderungan apakah tulang Anda rapuh atau tidak. Sebuah jarum tersebut menembus sebagian kecil tubuh Anda, yakni hanya beberapa milimeter dari tulang dan mampu memprediksi apakah Anda memiliki tulang yang kuat dan sehat atau tidak. Sebagai contoh, kepadatan tulang normal akan berhenti ketika jarum menembus kedalaman 20 mikrometer atau hanya 0,02 milimeter. Itu kurang dari setengah lebar rambut manusia. Dengan metode tersebut, tentu bisa memprediksi siapa yang berisiko terkena osteoporosis atau terancam penyakit.

Perangkat ini bekerja dengan mengukut berapa banyak tibia pada permukaan tulang kering. Hal ini membantu dokter menghitung seberapa padat tulang tubuh Anda. The probe memiliki jarum kecil di bagian ujung dan didorong ke dalam tulang setelah bius lokal diberikan.

Ketika masuk pada kedalaman sekira 40 mikrometer atau 0,04 milimeter bisa menunjukkan risiko yang signifikan dari fraktur. Hal ini karena tulang terbuat dari struktur sarang lebah. Ketika tulang melemah atau osteoporosis, lubang-lubang di sarang lebah membesar. Hal ini membuat tulang jadi kurang padat dan jarum mampu menembus lebih dalam.

Proses pengujian hanya membutuhkan waktu beberapa detik meskipun tidak menembus kulit. Peneliti mengatakan ini tak lebih dari sekadar tusukan jarum. Mereka menggunakan tulang kering karena mudah diakses dan menjadi salah satu tulang terbesar dalam tubuh.

Osteoporosis memengaruhi sekira tiga juta orang di Inggris. Kondisi tersebut membuat riisko patah tulang lebih tinggi dimana ini merupakan penyebab utama kecacatan di usia lebih dari 65 tahun.

Dokter mengandalkan X-ray atau DXA scan untuk memerkirakan kepadatan tulang atau jenis lain dari CT image yang disebut multidetector computed tomography. Namun, kedua metode hanya memberikan rata-rata ketebalan tulang daripada gambaran rinci tentang kekuatan struktur tulang secara internal.

Eksperimental penyelidikan yang telah dikembangkan oleh perusahaan AS dapat memberikan dokter indikasi instan tentang kekuatan tulang. Jika tulang terbukti lemah, maka pasien dapat dirujuk untuk scan.

Para ilmuwan mengatakan jika digunakan bersama metode yang ada bisa membantu mencegah patah tulang. Sekarang ini mereka berencana untuk menggunakannya dalam percobaan klinis yang melibatkan puluhan pasien untuk melihat apakah mereka berada pada risiko patah tulang. Jika berhasil, ini bisa digunakan dalam beberapa tahun ke depan, seperti dilansir Dailymail.

Claire Bowring, Medical Policy Manager di National Osteoporosis Society mengatakan, "Studi baru ini tentu menarik. Teknik pemindaian kepadatan tulang saat ini bukan ukuran sempurna untuk kekuatan tulang dan tidak menunjukkan kualitas tulang."

"Teknik-teknik baru seperti ini yang melihat langkah lebih lanjut dari kerapuhan tulang sangat penting dalam mengembangkan pemahaman kita tentang osteoporosis dan kesehatan tulang guna membantu mengurangi jumlah penderita patah tulang."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar