Fakta dan Mitos - Akuisisi BlackBerry oleh Fairfax beberapa hari lalu menambah panjang daftar para raja yang kemudian terjungkal dengan cara menyakitkan. Beberapa merk yang nantinya saya tuliskan ini memberi contoh bahwa yang namanya kejayaan itu tidak ada yang abadi.
Dari sekian banyak merk ini ada yang “sekadar” berganti pemilik, ada yang harus mulai lagi dari awal dengan wajah baru, dan ada pula yang sama sekali hilang.
Inilah sebagian raja-raja tersebut (ditulis berdasarkan abjad) :
1. BlackBerry
Didirikan tahun 1984 dengan nama Research In Motion (RIM) oleh salah seorang mantan CEO-nya, Mike Lazaridis, BlackBerry pernah menikmati masa jayanya sebagai produsen smartphone terkemuka (dan laris) berkat fitur BlackBerry Messenger-nya (BBM). Puncaknya pada tahun 2011 BlackBerry menikmati keuntungan bersih sekitar US$ 3.444 juta dengan jumlah pelanggan sebanyak 70 juta orang di seluruh dunia. Akan tetapi saat ini BlackBerry sedang menderita rugi US$ 317 juta padahal jumlah pelanggannya meningkat menjadi 79 juta orang. Penguasaan pasarnya yang semula 43% sekarang tergerus drastis menjadi 3,8% di Amerika Serikat. Beberapa kalangan menilai tergulingnya BlackBerry sebagai raja smartphone disebabkan terlalu percaya dirinya manajemen perusahaan tersebut ketika menghadapi gempuran kompetitor utamanya dari kubu Android. Saat ini Blackberry setuju untuk diakuisisi oleh pemegang saham terbesarnya yaitu Fairfax yang akan menjadikan BlackBerry sebagai perusahaan tertutup. Kita hanya bisa menunggu bagaimana kelanjutan kisah BlackBerry.
2. Friendster
Saya yakin Kompasianer yang saat ini berusia setidaknya 30-an tahun mengenal Friendster. Ya, Friendster yang didirikan oleh Jonathan Abrams pernah booming sekitar tahun 2002 dan bisa dibilang inilah situs jejaring sosial pertama yang sangat popular. Data dari Wikipedia menyebutkan bahwa pada tahun 2008 Friendster sudah memiliki 115 juta pengguna. Runtuhnya Friendster diawali dengan lahirnya jejaring sosial paling popular saat ini yaitu Facebook dengan fitur “update status”-nya, sesuatu yang seingat saya saat itu belum dimiliki Friendster. Friendster semakin ditinggalkan penggunanya dan pada akhirnya sekitar tahun 2009 dibeli oleh perusahaan internet asal Malaysia, MOL Global dengan nilai US$ 26,4 juta. Nilai yang lebih kecil ketimbang tawaran dari Google sebesar US$ 30 juta pada tahun 2003 saat Friendster masih berjaya. Saat ini Friendster sudah berubah menjadi situs permainan online dengan jumlah pengguna berdasarkan data tahun 2010 sebesar 8,2 juta orang.
3. Kodak
Merupakan salah satu perusahaan tertua di dunia (didirikan tahun 1888 di New Jersey), Kodak pernah menjadi merk yang mendominasi pasar fotografi dengan penguasaan sebesar 89% di Amerika Serikat pada tahun 1976. Saking popularnya Kodak sehingga di Indonesia saja ada istilah “Mat Kodak” sebagai julukan untuk profesi fotografer. Bahkan sebagian teman saya masih menyebut kamera sebagai “Kodak”. Tergulingnya Kodak dimulai ketika orang sudah mulai menggunakan kamera digital. Kodak sebenarnya sudah menguasai teknologi kamera digital namun tidak mengembangkannya karena khawatir pasar film negatif yang sudah dikuasainya akan hancur. Kodak memilih untuk tidak mengikuti teknologi sehingga malah terguling dengan sendirinya. Tahun 2007 adalah saat terakhir Kodak menikmati laba dan di bulan Januari tahun 2012 Kodak mengajukan permohonan pailit dengan nilai saham sebesar 36 sen dollar per-lembarnya. Kodak juga akhirnya menjual beberapa paten dan teknologi yang dimilikinya kepada beberapa perusahaan seperti Apple, Google, Facebook, Amazon, Microsoft, Samsung, Adobe, dan HTC untuk menyelamatkan diri dari kebangkrutan. Saat ini Kodak memfokuskan diri pada layanan digital imaging (cetak foto).
4. Multiply
Salah satu situs yang pernah sangat popular di Indonesia adalah Multiply yang waktu itu hadir dengan layanan blog semacam blogspot dan wordpress. Multiply didirikan tahun 2004 dan memiliki lebih dari 11 juta pengguna. Pada awal tahun 2012, dengan pertimbangan strategi perusahaan yang akan fokus ke e-commerce, Multiply melakukan langkah yang mengejutkan dengan memindahkan kantor pusatnya dari Amerika ke Jakarta. Belum selesai keheranan para pengguna, Multiply pada akhirnya menutup layanan blognya dan fokus ke e-commerce khususnya untuk pasar di Philippina dan Indonesia, sebuah langkah yang dinilai banyak pengamat sebagai “beresiko” karena pasar e-commerce di kedua negara tersebut belum mapan dan Multiply dulu besar karena layanan blognya. Multiply hanya sekitar 6 bulan beroperasi di Indonesia dan saat ini Multiply sudah menutup seluruh layanannya. Situs ini sudah mati.
5. Nokia
Kisah tentang Nokia masih menjadi bahan perbincangan. Pernah mendominasi pasar ponsel dunia dengan menggulingkan Motorola, beberapa hasil karyanya masih menjadi legenda hingga saat ini seperti misalnya Nokia 5110 si “Sejuta Umat”. Berawal dari pabrik pengolah pulp di Finlandia tahun 1865, Nokia pernah memiliki banyak lini usaha seperti pengolahan karet untuk ban, kabel, sepatu bot, dan produk elektronik seperti televisi, dll. Namun pada tahun 1992 semua lini usaha tadi dijual dan Nokia berkonsentrasi penuh sebagai pabrikan ponsel. Sebagai pabrikan ponsel, Nokia sebenarnya sudah berupaya agar tetap menjadi yang teratas dalam industri ini melalui kerjasama dengan beberapa pihak seperti Sega, Siemens, Twango, dsb. Mungkin kesalahannya hanya satu, “Nokia terlalu percaya diri dengan OS Symbian yang dikembangkannya.” Pelan tapi pasti kekuasaan Nokia digerogoti tanpa disadari oleh pihak Nokia. Puncaknya pada tahun 2012 saat posisi Nokia sebagai penguasa ponsel (18%) didepak oleh Samsung. Harga sahamnya pun terjun dari US$ 40 di tahun 2007 menjadi kurang dari US$ 2 di tahun 2012. Nokia juga mencatatkan kerugian sebesar 3,106 miliar Euro di tahun yang sama. Saat ini Nokia sudah dibeli oleh Microsoft dengan nilai US$ 17,7 miliar, sekitar 4x lebih tinggi dari nilai BlackBerry. Dan setidaknya di kancah smartphone Nokia masih berharap bisa menempati posisi ketiga setelah Android dan iOS meski saat ini “hanya” menguasai 3% pasar smartphone.
Itu sekilas beberapa entitas yang pernah menjadi raja (atau setidaknya menjadi fenomena) namun kemudian terhempas ke pinggir. Sebenarnya masih banyak lagi entitas yang lain seperti General Motors, IBM, Motorola, Palm, dll atau mungkin anda bisa menambahkan?
Semoga posting saya bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar