Fakta dan Mitos :
1. Pemberian Kopi Mencegah Kejang Pada Anak
Pemberian kopi kepada anak sampai saat ini masih tidak terbukti untuk dapat mencegah terjadinya kejang. Sebab, kejang pada anak di diakibatkan oleh demam tinggi atau faktor penyebab lainnya. Untuk mencegah demam, maka penyebab demam itulah yang harus dicari kemudian diatasi. Justru beberapa penelitian menunjukkan pemberian kafein pada binatang percobaan dapat meningkatkan resiko kejang epilepsi. Pemberian kopi beresiko menyebabkan detak jantung berdebar-debar, gelisah, dan anak tidak bisa tidur. Padahal pada anak yang badannya panas, detak jantungnya sudah meningkat dan gelisah. Pada anak dengan saluran cerna yang sensitif maka kopi akan beresiko berdampak terhadap keluhan mual, muntah dan nyeri perut.
2. Jalan di Pantai menyembuhkan asma
Jalan di pantau belum terbukti dapat mencegah asma. Asma adalah keadaan saluran napas yang mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu khsusnya alergi bisa karena alergi makanan atau debu. Asma juga dapat dipicu atau diperberat karena infeksi saluran napas, stres, aktifitas belerbihan dan udarea dingin. Tetapi pemicu bukanlah yang utama bila penyebab dapat dikendalikan.
3. Mi Instan berbahaya bagi kesehatan
Sampai saat ini banyak opini berkembang baik dari orang awam
bahkan sebagian dokter mengatakan bahwa mi instan harus dihindari karena berbahaya bagi kesehatan. Berbagai berita dan mitos tidak jelas mengatakan bahwa mi instan mengandung lilin, menyebabkan operasi pemotongan usus dan berbagai hal menyeramkan lainnya. Padahal produk mi instant diawasi ketat melalui standarisasi internasional yang ditetapkan Codex Alimentarius Commission (CAC) dam standarisasi nasional oleh Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Forum CAC (Codex Alimentarius Commission) merupakan organisasi perumus standar internasional untuk bidang pangan. Berbagai produk dan industri makanan yang ada di Indonesia harus dibuat berdasarkan CODEX Alimentarius Commission, badan standar makanan internasional. Memang Mi Instan mengandung bahan tambahan seperti seperti nipagin (methyl p-hydroxybenzoate) yang berfungsi sebagai pengawet dengan batas maksimum penggunaan. Juga terdapat asam benzoat dan propeonat. Methylparaben nama tehnisnya Methyl p-hydroxybenzoate (disebut juga Methyl parahydroxybenzoate) dalam makanan instant dan makanan lainnya. Menurut Codex Alimentarius Commission (CAC), Permenkes No.722/1988 dan bPOM bahan pengawet tersebut diizinkan dan tidak berbahaya.Untuk makanan seperti mie instan, asalkan tidak melebihkan kadar maksimum yang ditentukan Badan POM, yakni 250 mg per kg. Di setiap Negara batas maksimum pemakaian Nipagin berbeda seperti Amerika Serikat, Kanada dan Singapura, kadar maksimum Nipagin itu 1.000 mg per kg. di Hongkong 550 mg per kg. Penentuan batas keamanan yang sangat bervariatif tersebut karena sampai saat ini belum ada data dasar dan data ilmiah yang mendasari penentuannya. Anehnya, orangtua tampaknya tetap merasa aman dengan mi industri lain yang juga banyak dikonsumsi untuk rumah makan, restoran dan penjaja mi goreng keliling. Padahal produk lainnya tersebut belum tentu mengikuti standarisasi yang ketat. Banyak mi buatan home industri atau produksi pabrik tersebut yang mengandung bahan perwarna berbahaya dan pengawet berbahaya yang tidak terdeteksi tetapi masyarakat tidak pernah takut.
4. Minum Es, Debu, makan gorengan sebagai penyebab sakit Flu
Saat mengalami keluhan radang tenggorok, pilek, bersin atau demam seringkali masyarakat menjadikan kambing hitam minum es, debu atau udara dingin. Hal lain yang sering dijadikan alasan penyebab sakit flu, demam, batuk atau pilek karena kecapekan, kena hujan, kena angin, kena debu, naik sepeda motor, kena kipas angin atau karena di rumah sedang membangun. Ternyata alasan yang dikemukan orang tersebut adalah tidak benar sebagai penyebab atau bukan penyebab langsung sakit infeksi batuk, pilek dan demam yang di alami anaknya. Banyak yang meyakini bahwa sakitnya yang diderita selama ini karena hal tersebut. Padahal bila dicermati penularan penyakit yang utama adalah terjadi kontak sumber penularan dan ada kontak yang sakit di sekitarnya 1-2 hari sebelumnya. Faktor daya tahan tubuh juga menjadi faktor penting, karena meskipun ada kontak manusia bisa terhindar dari flu atau paling tidak gejalanya ringan yang pernah kita sadari. Bila tidak ada kontak dan sumber penularan flu tidak akan terjadi. karena virus tersebut tidak akan beterbangan di udara bebas yang luas, seperti di jalan, di udara luas dan tertipup angin dengan jarak yang jauh. Kalaupun es, udara dingin, atau gorengan hanya akan memperberat saat sudah terkena flu atau radang tenggorokan. Tetapi saat sehat bila terjkena paparan tersebut tidak berpengaruh.
5. Vitsin (MSG) berbahaya bagi kesehatan
Sampai seratus tahun penggunaan mi oleh manusia sampai saat ini tidak ada penelitian sedikitpun yang membuktikan bahwa vitsin berbahaya bagi kesehatan. Mitos yang selama ini dianut oleh masyarakat awam dan sebagian klinisi atau dokter bahwa MSG berbahaya ternyata mitos yang tidak benar. Ternyata MSG atau vetsin aman untuk digunakan atau dikonsumsi dalam makanan sehari-hari. Berbagai mitos tentang efek samping MSG tidak memiliki bukti ilmiah yang kuat, sehingga seluruh badan pengawasan makanan dunia masih menggolongkan MSG sebagai bahan yang Generally Regarded
as Safe (GRAS) dan tidak menentukan berapa batas asupan hariannya. Bila terjadi kontroversi tentang suatu masalah sebaiknya merujuk perbedaan pendapat tersebut tertuju pada penelitian ilmiah atau rekomendasi resmi institusi kesehatan internasional yang kredibel. MSG tersusun atas 78% Glutamat, 12% Natrium dan 10% air. Kandungan glutamat yang tinggi itulah yang menyebabkan rasa gurih dalam segala macam masakan. Glutamat itu sendiri termasuk dalam kelompok asam amino non esensial penyusun protein yang terdapat juga dalam bahan makanan lain seperti daging, susu, keju, ASI dan dalam tubuh kita pun mengandung glutamat. Di dalam tubuh, glutamat dari MSG dan dari bahan lainnya dapat dimetabolime dengan baik oleh tubuh dan digunakan sebagai sumber energi usus halus. Badan-badan kesehatan dunia saat ini seperti JEFCA (FAO+WHO khusus bahan pangan), Komunitas Kesehatan Eropa, US FDA dan BPOM menyatakan aspek keamanannya dan memberikan batas asupan harian dalam penggunaan MSG adalah NOT SPECIFIED atau secukupnya. Tidak ada penetapan angka dalam penggunaanya dalam mengkonsumsi MSG. Di Amerika, pengunaan MSG dimasukan dalam kategori GRAS (Generally Recognized as Safe) sama seperti penggunaan garam, gula dan soda kue dalam pengguaanya. Isu-isu negatif yang beredar tidak didasari oleh kajian-kajian ilmiah yang diakui kredibilitasnya. Ada beberapa penelitian memvonis MSG sebagai sumber penyakit ternyata menggunakan metode penelitian yang rancu dan tidak relevan dalam pengguaan MSG dalam kehidupan sehari-hari.
6. Berjemur di matahari menyembuhkan batuk lama dan nafas grok-grok (hiperreaktifitas bronkus atau noisy breathing).
Sampai saat ini tidak ada fakta ilmiah dan penelitian sedikitpun yang menyatakan bahwa berjemur di matahari dapat menyembuhkan batuk dan napas berbunyi pada bayi dan anak. Kalaupun fakta ada menunjukkan bahwa batuk dan pilek membaik setelah dijemur pada pagi hari bukan karena sekedar manfaat berjemur pada matahari. Pada penderita alergi dengan sensitif saluran napas seperti asma, napas berbunyi dan batuk lama, ternyata saat siang hari keluihannya akan berkurang secara alamiah. Biasanya pada penderita alergi tersebut gangguan akan semakin berat saat malam dan pagi hari. Saat siang membaik selama ini dianggap karena berjemur matahari. Padahal banyak bayi dan anak dengan battuk lama, asma dan alergi tanpa berjemurpun siang hari akan membaik sendiri.
7. Diet Golongan Darah Temuan besar
Teori Dr. Peter J. D Adamo tentang diet golongan darah ini
sampai saat ini masih menjadi
kontroversi di dunia kedokteran.
Secara medis temuan tersebut tidak berdasarkan evidence base medicine atau kejadian medis berbasis bukti. Dalam era modern dunia kedokteran, setiap tindakan dan terapi medis harus berdasarkan penelitian secara ilmiah. Bila tidak terbukti maka pendapat dan teori tersebut belum layak digunakan dalam masyarakat. Dr. Peter J. D Adamo adalah seorang naturopatis dari Stamford, Connecticut Amerika pada tahun 1996 di Amerika memperkenalkan cara baru diet dengan mendasarkan pada golongan darah manusia. Meskipun seorang dokter tetapi dalam kehidupan profesional sehari-hari bergerak di bidang terapi alternatif atau non medis. Namun sayangnya teori dan berbagai penelitian yang dilakukan oleh Dr. Peter J. D Adamo, tidak sesuai kaidah ilmu kedokteran dan tidak termasuk penelitian yang memenuhi kelayakan ilmiah. Sampai saat ini, belum dijumpai hasil penelitian golongan darah dalam pubmed online atau publikasi penelitian ilmiah online yang diakui dunia medis internasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar