Fakta dan Mitos - Jelang Laga Final Piala AFF U-19 pada Minggu 22 September 2013, Pukul 19.00 WIB yang akan mempertemukan antara Timnas Indonesia dan Timnas Vietnam, ada beberapa hal menarik yang patut kita ambil hikmahnya untuk membangun Sepakbola Indonesia yang lebih Indah di masa depan.
Berikut hal-hal unik tersebut yang penulis kumpulkan dari berbagai sumber :
1) Suporter Timor Leste Ikut Nyanyikan Indonesia Raya di Semifinal Antara Indonesia vs Timor Leste
Hal yang paling mengharukan adalah ketika 14 tahun yang lalu kita kehilangan saudara kita Timor Timur (Timor Leste) yang terpaksa berpisah dan menjadi negara sendiri. Kini, negara kecil tersebut berdiri sama tegak, duduk sama rendah dengan saudara tuanya Indonesia, pun dalam hal sepakbola. Pertemuan dua negara “bersaudara” ini memang tidak sekali dua kali, kita sering mengundang mereka untuk latih tanding. Namun pertemuan pada Jum’at (22/9) lalu di semifinal menjadi suatu yang sangat spesial, karena lawan yang dihadapi Indonesia adalah “adik”nya Timor Leste yang dalam usianya yang masih muda sudah mampu mencapai prestasi di kancah Asia Tenggara. Uniknya menjelang laga akan dimulai saat lagu Indonesia Raya dikumandangkan, para suporter Timor Leste yang kebanyakan merupakan mahasiswa dan pekerja Timor Leste di Indonesia serta ofisial Timnya, turut menyanyikan lagu Indonesia Raya, lagu yang selalu mereka nyanyikan disekolah tiap senin kala masih menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dahulu. Pun tidak ada sinar laser atau lemparan botol dari suporter Indonesia untuk pemain Timor Leste seperti kala melawan Malaysia dibabak penyisihan. Bahkan selama dan seusai pertandingan para suporter saling berangkul mesra layaknya sahabat yang sudah tidak lama berjumpa. Sikap seperti inilah yang seharusnya di tiru oleh suporter kita kedepan siapapun lawannya. Tidak hanya kepada Timor Leste kita bisa menghargai, siapapun lawannya kita tunjukkan bahwa kita adalah suporter bola yang sudah dewasa dan kastria. Buang segala dendam dan rasa permusuhan. Tirulah Suporter Timor Leste yang masih menghargai saudara tuanya.Sepakbola adalah olahraga untuk menciptakan kebersamaan, bukan permusuhan.
2) Jiwa Besar Pelatih Timor Leste Norio Tsukikate
Pelatih Timor Leste berkebangsaan Jepang ini sangat layak ditiru. Kepada awak media terang-terangan dia mengakui bahwa kekalahan timnya dari Indonesia murni adalah kesalahannya. Dia mengatakan salah strategi ketika melawan Indonesia. Anak-anak sudah bermain bagus dan sudah menjalankan strategi dengan benar, hanya saja menurutnya strategi itu ternyata salah dan itu menjadi tanggungjawabnya tegasnya. Walau dia mengaku malu untuk membeberkan strategi yang salah itu, namun dia bertekad belajar dari kesalahan itu dan yakin bisa meraih juara tiga dan mengalahkan Laos nantinya. Sangat jarang pelatih yang mahu mengakui kesalahan, termasuk pelatih-pelatih “made in” Indonesia. Kebanyakan pelatih kita selalu menyalahkan pemain mulai dari stamina, pola yang diterapkan dilapangan tidak maksimal, waktu berlatih yang tak cukup, tidak fokus, lawan tanding yang tidak paslah dan sebagainya. Bahkan Nasib-pun selalu jadi sandaran. Sering sekali kata-kata “Kita belum beruntung” kita dengar kalo kita kalah. Bahkan, jika sudah kalah, langsung “down”. Terpuruk. Kedepan pelatih -pelatih seperti ini tidak usah dipakai lagi. Kita butuh pelatih yang berani bertanggungjawab maksimal kepada timnya. Kita butuh pelatih yang selalu ada bersama pemain baik dalam kalah maupun menang. Pelatih yang selalu didepan, kala timnya di cerca habis-habisan. Pelatih yang berani bilang tidak sanggup kalau memang dia tidak mampu. Sebab untuk menjadi pelatih Tim Nasional bukan untuk main-main, nama besar bangsa yang dipertaruhkan.
3. Penolakan Pelatih Indra Sjafrie agar Timnya meniru Tika Taka atau gaya Eropah di Final nanti.
Banyak permintaan publik sepakbola kita agar pelatih Indra Sjafrie menerapkan tika taka ala Spanyol atau Barcelona ketika menghadapi vietnam di final nanti. Hal ini ditampik pelatih Indra Sjafrie. Hal itu tidak akan efesien, katanya. Jangan paksa pemain masuk pada filosofi-filosofi seperti tiki-taka, inilah, itulah. Orang kita suka mumet sendiri. Tidak efesien. Banyak pelatih di sini yang seperti itu. Seharusnya kita tidak meniru filosofi ini dan itu, tidak cocok. kita harus punya filosofi khas sepak bola Indonesia” Tegas Indra Sajfrie. Menurutnya tidak ada satupun filosofi bola manapun yang cocok dengan pemain Indonesia. Indonesia punya karakter tersendiri. Indonesia harus punya khas permainan Indonesia. Dia ingin kelak orang akan berbicara tidak hanya tiki taka, tapi juga pola khas Indonesia. Pelatih Indra Sjafrie mengaku konsep tersebut sudah ada, tinggal penggemblengan secara maksimal saja. Semoga konsepnya itu berjalan sukses kala melawan Vietnam nantinya. Dan tentunya “sindiran” Indra Sjafrei kepada pelatih-pelatih sepakbola kita ini harus didengar, dan kedepan kita harus segera membangun filosopi sepakbola ala Indonesia yang bisa sejajar dengan tika taka -nya Spanyol atau samba-nya Brazil. Semoga.
4) Kiper Timnas U-19 Ditangkap Polwan.
Terakhir, inilah”kelatahan” orang Indonesia. Hal-hal yang masih fres, baru, membuat decak kagum! langsung jadi idola. Termasuk penampilan cemerlang kiper Timnas U-19 Ravi murdianto, didukung penampilannya yang lumayan ganteng langsung dielu-elukan, bukan hanya para wanita remaja, karyawati hotel tempat timnya menginap, bahkan Polwan yang menjaga-pun ikut “ngefans”. Adalah Ravi Mujianto, pada saat keluar dari kamar ganti pemain saat pertandingan Indonesia vs Timor Leste, diculik oleh para Polwan dan diajak foto-foto bersama. Salah satu Polwan berceletuk” Semoga anak laki-laki saya seeperti dia. Ganteng” Katanya. Inilah kebiasaan orang Indonesia yang suka berlebih-lebihan. Perjalanan Ravi dan kawan-kawan masih panjang, jangan sampai mereka dirusak oleh media yang kemudian pada akhirnya malah memilih menjadi artis dari pada pemain sepakbola. Mengidolakan mereka perlu, tapi lebih perlu tetap bersama mereka kala mereka belum bisa memberikan yang terbaik. Itulah yang seharusnya dilakukan suporter kita. Jangan hanya kala menang saja dipuja, kala kalah dicaci maki. Alamak!
Demikianlah sedikit hal-hal menarik dari perjalanan Timnas Indonesia U-19 menuju gelar Juara! Semoga bermanfaat bagi persepakbolaaa kita! Majulah terus garuda ku!
Merdeka!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar