Cari Blog Ini

Kamis, 04 Juli 2013

9 Fakta Tentang DBD

Reko Blog's - Warga ASEAN memperingati Hari Dengue ASEAN, yang jatuh pada 15 Juni. Dengue adalah wabah penyakit demam berdarah. Negeri tetangga Singapura yang dikenal bersih dan teratur juga saat ini sedang menghadapi wabah tersebut.

Hingga Kamis pekan lalu, Catatan Elektronik Kesehatan Nasional Singapura melaporkan bahwa angka kasus DBD telah menembus angka 10.257 kasus, dua di antaranya meninggal dunia. Angkanya dua kali lebih banyak daripada kasus serupa pada tahun lalu, yang hanya 4.632 kasus, dan 5.330 kasus pada 2011.

Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia masih menjadi negara tertinggi kedua prevalensinya di dunia di bawah Brasil. Bahkan tertinggi di Asia Tenggara, dengan 90.245 kasus dan 816 orang meninggal berdasarkan data tahun 2012. Meski begitu, jumlahnya terus menurun hingga 66% pada 2011-2012.

Ambil contoh di Rumah Sakit (RS) Budi Asih, Jakarta Timur. Menurut Hamonangan Sirait, Kepala Humas RS Budi Asih, pihaknya hanya didatangi dua-tiga pasien DBD setiap hari. ''Kalau dulu bisa sampai 10-20 pasien sehari,'' katanya kepada wartawan GATRA Aditya Kirana. Ia menduga, perubahan musim pada tahun ini ikut mempengaruhi penurunan kasus 60%-70%. Selain itu, karena makin cepat tanggapnya masyarakat menghadapi penyakit ini.

Dalam jumpa pers menyambut Hari Dengue ASEAN, Sabtu dua pekan lalu, Dien Emmawati, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, juga mengakui terjadi tren penurunan. Pada 2012, prevalensinya 68,47 kasus per 100.000. Padahal, pada 2010, tingkat insidennya masih 202 per 100.000 orang.

Berikut beberapa fakta mengenai DBD :

1. Sekitar 390 juta orang sebagian besar anak-anak terinfeksi virus dengue setiap tahun.

2. Setiap tahun, 22.000 jiwa melayang, mayoritas anak-anak, akibat DBD.

3. DBD disebabkan empat serotipe virus dengue : DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4.

4. Virus dengue ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.

5. Gejala klinisnya antara lain demam tinggi, sakit kepala, terkadang muncul bintik merah, sakit di sekujur tubuh, otot, dan persendian, serta adanya komplikasi perdarahan. Terjadi penurunan trombosit dalam jika diperiksa di laboratorium.

6. Masa inkubasinya berlangsung tiga hingga tujuh hari setelah gigitan.

7. Pada anak-anak lebih parah. Akan timbul panas tinggi, nyeri di perut dan ulu hati, mual, serta muntah.

8. Sampai saat ini, belum ada pengobatan yang efektif, sehingga langkah pencegahan merupakan faktor penting.

9. Upaya pencegahan dengan "3M Plus" : menutup lubang, mengubur kaleng, dan menguras air di bak secara teratur, plus memelihara ikan pemakan jentik, mabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprotkan insektisida, dan lain-lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar